Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Februari 2016

Budaya Perjodohan di Jepang “Omiai”

omiai_jodoh3

Dulu, perjodohan atau kasarnya kita sebut sebagai kawin paksa lumrah dilakukan di berbagai belahan dunia. Tujuan utama dari praktek tersebut adalah melanjutkan garis keturunan, dan membentuk sebuah ikatan antara dua keluarga yang berbeda. sebuah pernikahan yang didasarkan saling cinta kini menjadi norma utama yang berlaku di banyak negara. Jepang pun tidak begitu berbeda dengan negara lainnya, namun untuk berbagai alasan 30-40% orang di sana memilih cara ‘Omiai’ sebagaimana partner pernikahan memilihkan pasangan untuk seseorang untuk dinikahi.
Secara tradisional perkiraan usia untuk seorang menikah di Jepang adalah 25 tahun untuk wanita dan 30 tahun untuk lelaki. Namun, usia untuk melakukan pernikahan kini telah bergeser dan jumlahnya semakin meningkat, menjadi 29 tahun untuk wanita dan 31 tahun untuk lelaki. selain jumlahnya meningkat, tekanan sosial yang kuat terjadi pada mereka yang memiliki usia di akhir 20 dan 30-an untuk menikah juga memiliki keluarga. Bahkan telah terjadi pembicaraan tentang lelaki yang sudah menikah, mereka akan menjadi karyawan yang lebih diinginkan perusahaan di Jepang (gampang mencari pekerjaan). Jadi, apa yang harus anda lakukan ketika belum menemukan cinta sejati anda, meskipun usia sudah di akhir 30-an atau bahkan 40, dan anda tidak ingin berakhir sendirian?
omiai_jodoh
Itulah dimana saat omiai agency atau partner perjodohan dibutuhkan, secara harfiah ‘omiai’ memiliki arti “melihat-bertemu”, melihat apakah pasangan yang dipilihkan serasi dengan anda atau tidak, dan jika jawabannya bersifat positif anda akan dinikahkan, biasanya setelah beberapa bulan dari pertemuan pertama.
Ketika mendaftar di sebuah agen pencarian jodoh, yang harus dilakukan adalah mengisi profil anda lalu melihat-lihat seorang single yang memenuhi persyaratan anda di buku-buku yang terdapat di agen tersebut. tak jarang praktek perjodohan ini dilakukan oleh kerabat atau orang terdekat dari sang pencari pasangan pernikahan, biasanya dilakukan oleh para ibu. Saat kecocokan telah ditentukan, sebuah pertemuan singkat diadakan. Subjek seringkali gugup dan biasanya ditemani oleh ibu juga ayahnya, sebagaimana di Jepang bukan hanya kecocokan dengan calon yang penting tetapi juga dengan keluarganya.
omiai_jodoh1
Setelah pertemuan pertama, yang biasanya tidak memerlukan lebih dari pertukaran informasi dasar dan berbasa-basi, keputusan dibuat apakah akan dilanjutkan atau tidak. Jika dilanjutkan, beberapa tanggal ditetapkan dalam rangka untuk mengenal satu sama lain sedikit lebih baik. Kemudian pasangan akan mengikat simpul dalam sebuah pernikahan beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah pertemuan pertama.

Happily Ever After?
Melihat keduanya datang dari latar belakang budaya yang berbeda, yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka bahagia? Bukankah ini secara tidak langsung meningkatkan angka perceraian? Jawabannya adalah tidak. Faktanya tingkat perceraian dari pasangan yang dipertemukan omiai lebih rendah dibandingkan mereka yang menikah atas dasar cinta yang ditemukan sendiri. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mengada-ada dalam masyarakat seperti di Jepang, di mana cinta dipandang sebagai sesuatu yang dapat dirasakan sangat kuat, tetapi juga mudah menguap dan bisa cepat berlalu. Apa pendapatmu? Apakah budaya ‘omiai’ atau perjodohan seperti di Jepang dapat dilakukan di Indonesia? apakah praktek tersebut dapat lebih berhasil dari online dating dan perjodohan lain umumnya?
source: anibee.tv

Senin, 01 Februari 2016

Tiga Hewan yang Dianggap Keramat di Kuil-kuil Jepang



Jepang adalah salah satu negara yang kaya akan sejarah dan budayanya, bahkan banyak budaya jepang yang terkenal di dunia seperti Samurai, Ninja, Sumo dan lainnya.

Mayoritas penduduk jepang beragama Shinto, dan hampir disetiap kotanya memiliki banyak kuil-kuil. Dalam kegiatan keagamaan di Jepang ada beberapa hewan yang dianggap keramat dan sangat penting.

Warga di sana sangat menghormati hewan-hewan ini karena tugasnya seperti penjaga keamanan atau pengantar pesan. Hewan-hewan ini tidak heran biasanya selalu ada hampir di seluruh kuil-kuil di Jepang baik itu nyata ataupun berupa patung-patung. Berikut ini tiga hewan yang dianggap keramat :

1. Komainu




Komainu adalah hewan seperti anjing tetapi dengan wajah seperti singa. Biasanya komainu bertugas untuk menjaga kuil Shinto dari serangan roh jahat. Biasanya komainu dapat ditemui di depan kuil ataupun di dalam kuil secara berpasangan. Namun jika ingin melihat komainu yang berbeda terletak di kuil Yaeyama.

2. Kitsune atau Rubah



Kitsune atau bahasa lainnya rubah terdapat di lebih dari 32.000 kuil Shinto yang diperuntukkan bagi dewa padi, teh, sake dan Inari atau lambang kesuburan dan agrikultur. Kitsune ini biasanya berfungsi untuk penjaga pengganti Komainu atau bisa juga sebagai pembawa pesan.

3. Merpati 



Merpati di Jepang berhubungan erat dengan Hachiman atau dewa perang dalam kepercayaan Shinto untuk menjaga orang Jepang. Merpati mudah sekali ditemui di lebih dari 25.000 kuil, dan merpati bertugas sebagai pengantar pesan.

source: kaskus

Sifat Orang Jepang Yang Patut di Tiru Warga Indonesia




Jepang terkenal dengan kemajuan dan ilmu teknologinya yang maju. Namun di balik semua itu, Jepang mempunyai tradisi turun temurun yang sekiranya pantas untuk ditiru (wajib ditiru). Di sini ada beberapa tradisi warga Jepang yang diwariskan kepada anak cucu mereka yang membuat mereka hebat dalam segala hal.


1. Kerja Keras



Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

2. Malu



Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.

3. Hidup Hemat



Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas



Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi



Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah



Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia . Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) . Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini.

7. Budaya Baca



Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

8. Kerjasama Kelompok



Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok” . Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri



Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua



Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini.
Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.
Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

source: kaskus

Minggu, 31 Januari 2016

Sagemon Hiasan Jepang Ini Dibuat dari Kain Khusus

Sagemon Hiasan Jepang Ini Dibuat dari Kain Khusus

Pameran dan sekaligus dijual pajangan Sagemon, menjelang perayaan (festival) Hinamatsuri, boneka jepang, kini dilakukan di Museum Yanagawa Fukuoka di selatan Jepang.
"Sagemon hiasan Jepang ini dibuat dari kain khusus Jepang, warna warni dengan motif atau bentukan udang, kelinci dan sebagainya. Intinya supaya anak kita semakin bahagia dan semakin sukses nantinya," papar seorang warga Fukuoka.
Museum Yanagawa yang ada di kota Yanagawa Fukuoka ini memang sudah lama menyelenggarakan pameran seperti ini setiap tahun menjelang festival Hinamatsuri, festival boneka Jepang.
Asosiasi lokal Perempuan dan warga usia lanjut dari Sumber Daya Manusia Pusat membuat buatan tangan Sagemon sebanyak 500 buah dipamerkan dan sekaligus dijual, dipajang digantung warna warni sangat indah.
Acara ini memang sebagai awal dari Hinamatsuri yang akan jadi pameran puncak boneka anak-anak setiap tanggal 3 Maret.
Di berbagai toserba di Jepang pun sudah mulai dijual berbagai hiasan Hanamatsuri, baik satuan maupun satu set yang harganya bervariasi hingga jutaan yen per set.
source: tribunnews

Jumat, 29 Januari 2016

Upacara Minum Teh di Jepang



Upacara minum teh (茶道 sadō, chadō, jalan teh) adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯) atau cha no yu. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate.

Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkukkeramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang.

Chashitsu (ruangan upacara minum teh)

Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut.

Seni upacara minum teh memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan.

Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matchayang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.

Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). Istilah ocha no keiko bisa berarti belajar mempraktekkan tata krama penyajian teh atau belajar etiket sebagai tamu dalam upacara minum teh.
Upacara minum teh merupakan upacara tradisi budaya turun temurun yang dilakukan Jepang sejak sebelum zaman edo. Upacara minum teh ini hingga sekarang masih tetap dilestarikan. Upacara minum teh di Jepang memiliki makna kehidupan yang sangat dalam dan sebuah ajaran tata karma yang baik disamping banyaknya manfaat upacara ini dalam bidang kesehatan

Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.

Teh dibuat dengan cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di beberapa kuil agama Buddha. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.

Acara minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh Jepang yang bernama Murata Jukō. Menurut Jukō, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul upacara minum teh aliran Wabicha.

Upacara minum teh merupakan upacara penyambutan tuan rumah kepada tamu dengan cara menyajikan teh. Upacara minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate. Jika di dalam ruangan disebut chato. Biasanya para tuan rumah menyediakan bunga, lukisan, dan keramik yang indah untuk menyambut para tamu dalam upacara minum teh ini.

“Upacara ini mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni dalam ruangan upacara minum teh”

Lukisan dinding yang biasanya dipasang pada ruangan tempat upacara minum teh disebut kakejiku. Bunga  yang biasanya dipasang pada ruangan tempat upacara minum teh disebut chabana. Biasanya dalam upacara minum teh menggunakan teh matcha yakni teh yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchado. Namun kadang kala juga bias menggunakan teh hijau jenis sencha. Upacara minum teh dengan teh ini  disebut senchado. 

Dalam upacara ini juga disajikan kue manis yakni Okashi.
Upacara minum teh di Jepang yang sudah menjadi tradisi budaya Jepang turun menurun memiliki banyak manfaat antara lain
Teh yang disajikan baik untuk kesehatan
Teh yang disajikan dalam upacara minum teh memiliki banyak manfaat antara lain :
11.    Memperkuat gigi
22.    Memperkuat daya tahan tubuh
33.    Mencegah hipertensi
44.    Menyegarkan tubuh
55.    Sebagai penetralisir
66.    Menangkal kolestrol
77.    Mencegah kanker
88.    Mengoptimalkan metabolisme gula

Pada saat Tea Master membuat teh, setiap gerakan yang dilakukan sangat hati hati dan penuh kesabaran dan tidak boleh tergesa gesa hal ini bermakna seseorang harus melakukan sesuatu secara hati hati dan sabar. Untuk membuat teh dibutuhkan perlengkapan satu tungku hitam besar, satu mangkuk disebut Chawan dan satu wadah berisi bubuk matcha (salah satu jenis teh) yang disebut Natsume, juga ada beberapa peralatan yang sederhana lainnya, salah satunya adalah “kocokan” teh yang terbuat dari bambu yang mekar disebut Chasen, lalu sendok kayu yang panjang pipih untuk mengambil bubuk teh disebut Chasaku dan sendok air yang juga terbuat dari bambu.

Meminum teh pun tidak bisa sembarangan. Mangkuk teh yang disajikan diletakkan dengan sangat hati-hati karena yang menyajikan harus memastikan bahwa motif terbaik dari mangkuk teh tersebut harus menghadap ke arah tamu. Karena itu adalah sisi yang paling baik, maka tidak sopan pula bagi tamu untuk meminum langsung dari sisi tersebut. Jadi peminum teh juga harus memutar mangkuk teh agar posisi motif menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih dan menghormati.

Alat pembuatan teh.

Inilah beberapa tata cara meminum teh di Jepang:
1.    Tamu masuk dan tuan rumah mempersilakan tamu.
2.    Tamu dan penerima tamu saling mengucap salam.
3.    Pemberian kue manis bernama Okashi.
4.    Saling member salam sesaat setelah pemberian koe Okashi sebagai bentuk rasa hormat.
5.    Kue Okashi dimakan menggunakan tusukan bamboo harus dihabiskan untuk menghormati tuan rumah (maka dari itu kue ini biasanya sedikit dan kecil).
6. Seorang ahli Chanoyu menyiapkan teh dan memberikan cangkir kepada tamu (biasanya lelaki diberi cangkir yang simple dan wanita diberi cangkir bunga.
7.    Posisi duduk dengan dada tegap dan kaki dilipat ke belakang (bagi muslim seperti duduk diantara dua sujud).
8.   Sebelum menempelkan cangkir ke bibir, cangkir diletakkan di telapak tangan kiri dan tangan kanan harus memutar cangkir 180 derajat dalam tiga putaran. Jika kita lupa melakukan hal ini maka kita dianggap tidak sopan dan tuan rumah akan tersinggung. Karena gambar bunga-bunganya harus terlihat di depan sehingga tuan rumah mengetahui bahwa kita sangat menikmati teh tersebut.
9.  Ketika teh habis, untuk menghormati tuan rumah kita harus membuat suara seperti menyeruput dengan tujuan bahwa teh itu benar-benar  dinikmati.
10. Lap bagian ujung cangkir dengan tangan kanan.
11. Putar cangkir berlawanan dengan arah jarum jam dan kembalikan ke tuan rumah.

Prosesi pemberian kue manis atau okashi yang mana harus dihabiskan oleh tamu merupakan bentuk penghargaan dari tuan rumah untuk menyambut tamu dan tamu yang mendapat kue okashi harus menghabiskannya sebagai rasa syukur akan pemberian tamu juga sebagai bentuk penghormatan. Pada saat Tea Master membuat teh, setiap gerakan yang dilakukan sangat hati hati dan penuh kesabaran dan tidak boleh tergesa gesa hal ini bermakna seseorang harus melakukan sesuatu secara hati hati dan sabar. Meminum teh pun tidak bisa sembarangan. Mangkuk teh yang disajikan diletakkan dengan sangat hati-hati karena yang menyajikan harus memastikan bahwa motif terbaik dari mangkuk teh tersebut harus menghadap ke arah tamu. Karena itu adalah sisi yang paling baik, maka tidak sopan pula bagi tamu untuk meminum langsung dari sisi tersebut. Jadi peminum teh juga harus memutar mangkuk teh agar posisi motif menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih dan menghormati.

Upacara minum teh ini biasa diadakan pada sebuah ruang tertentu yang disebut Chasitsu (ruang teh). Terdapat 2 jenis Chasitsu, yaitu sebuah bangunan tersendiri yang terdiri dari beberapa ruang [di Inggris juga memiliki tradisi minum teh, dikenal sebagai tea houses/rumah teh], atau ruangan yang berada dalam suatu bangunan namun dikhususkan untuk upacara minum teh [dikenal di Inggris sebagai tea rooms/ruang teh]. Rumah teh biasanya berupa bangunan sederhana yang kecil, terbuat dari kayu. Letaknya di area yang terpisah pada bagian yang tenang. Namun pada masa kini biasanya terdapat di kebun atau taman. Sedangkan ruangan teh biasanya berupa ruangan kecil di dalam rumah, kuil, biara, sekolah atau bangunan lain. Di rumah Jepang, ruangan dengan lantai tatami bisa digunakan sebagai ruangan teh, sekaligus untuk fungsi yang lain juga.

Jenis jenis teh yang disajikan dalam upacara minum teh di Jepang
1.    Green Tea, atau sering disebut dengan teh hijau. Teh hijau memiliki banyak manfaat oleh sebab itu teh hijau sering digunakan dalam upacara minum teh.
2.    Gyokuro, teh ini tumbuh dengan tidak menerima sinar matahari secara langsung hal ini menjadikan aroma dari teh ini sangat harum.
3.    Matcha, merupakan teh hijau bubuk yang sangat tinggi kualitasnya. Hla ini menjadikan teh ini sering digunakan dalam upacara minum teh di Jepang.
4.    Sencha, teh ini sangat sering ditemui. Dalam upacara minum teh di Jepang sering menggunakan teh ini bias jadi karena mudahnya bahan baku. Teh ini ditanam dengan mendapatkan sinar matahari secara langsung.
5.    Genmaicha, campuran teh maicha dan beras merah yang telah dipanggang.
6.    Kabusecha, merupakan teh yang dilindungi dari sinar matahari daunnya sebelum di panen.
7.    Bancha, merupakan sencha yang dipanen pada musim kedua.
8.    Houjicha, merupakan teh hijau yang dipanggang.
9.    Kukicha, berasal dari tiap pucuk tanaman teh, dengan memetik bagian bunga dan tiga helai daunnya.
10. Tamaryokucha, merupakan teh yang memiliki aroma yang sangat tajam
Jenis jenis upacara minum teh di Jepang antara lain :
1.    Chabako Demae
Upacara minum teh ini menempatkan peralatan minum teh di sebuah kotak khusus.
2.    Ryu-Rei
Teh yang disajikan dalam upacara ini diletakkan dalam meja khusus. Pada awal dan akhir upacara akan dilakukan penghormatan dengan membungkukkan badan. Biasanya tuan rumah memerlukan asisten.
3.    Hakobi Demae
Dilakukan dengan posisi seiza dan peralatan teh dibawa keluar masuk ruangan upacara minum teh.
4.    Urasenka
Upacara jenis ini merupakan jenis upacara yang sangat popular. Biasanya tamu duduk bersimpuh di atas tatami kemudian diberikannya kue oleh tuan rumah untuk dimakan oleh tamu. Upacara minum teh tidak akan dimulai sebelum tamu menghabiskan kue yang dihidangkan tersebut.
5.    Obon Temae
Dalam upacara jenis ini tuan rumah akan membawa peralatan untuk menyajikan teh. Kemudian seluruh peralatan ditutup dengan fukusa. Teh encer akan dihidangkan dengan posisi seiza.


Dalam prosesi upacara minum teh banyak makna kehidupan yang terkandung di dalamnya seperti prosesi saling memberi hormat antara tamu dan penerima tamu yang bermakna saling menghormati dan setiap orang harus menghormati tamu. Prosesi pemberian kue manis atau okashi yang mana harus dihabiskan oleh tamu merupakan bentuk penghargaan dari tuan rumah untuk menyambut tamu dan tamu yang mendapat kue okashi harus menghabiskannya sebagai rasa syukur akan pemberian tamu juga sebagai bentuk penghormatan.

Source: http://agentmib.blogspot.co.id/